![]() |
Namun, ia justru memilih jalan yang jarang diambil oleh orang dengan latar belakang seperti dirinya: melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
Yang membuat saya semakin kagum, ia memulai studi S2 tersebut tanpa memiliki pekerjaan tetap maupun penghasilan yang pasti. Saya masih ingat ketika ia tiba-tiba menelepon dan bercerita betapa sulitnya mencari beasiswa—satu per satu peluang tertutup di hadapannya. Jika saya berada di posisinya, mungkin saya sudah memilih untuk mundur.
Namun ia tidak demikian. Ia justru berkata, "Bismillah saja, Nun. Doakan aku bisa membayar uang masuk sebesar 20 juta itu."
Kalimat itu bukan lahir dari keyakinan karena dana sudah tersedia, melainkan dari keyakinan bahwa ada Yang Mahakuasa yang mengatur rezekinya, jauh melampaui apa yang tertulis dalam buku tabungan.
Ia kerap menyampaikan sebuah pepatah, there is no such thing as a free lunch—bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang datang secara cuma-cuma; semuanya menuntut usaha, menuntut keberanian untuk membayar "harga" terlebih dahulu sebelum mengetahui hasilnya. Namun, ia juga selalu menambahkan satu kalimat yang menurut saya menjadi kunci dari seluruh keberaniannya:
"Allah itu jauh lebih besar daripada mimpi kita yang paling besar sekalipun."
Maka ia pun melangkah lebih dulu. Mendaftar lebih dulu. Membayar lebih dulu—dengan segala ikhtiar yang bisa ia usahakan. Bukan karena nekat tanpa perhitungan, melainkan karena ia memahami satu hal: rezeki tidak selalu datang sebelum langkah diambil. Terkadang, rezeki justru muncul setelah kita berani melangkah lebih dahulu.
Dan benar saja, satu per satu jalan itu perlahan terbuka. Bukan secara instan, bukan pula tanpa perjuangan, tetapi terbuka melalui cara-cara yang bahkan tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.
Kini, setiap kali saya merasa ragu dalam mengambil keputusan besar—baik dalam hal pendidikan, pekerjaan, maupun mimpi yang tampak "tidak masuk akal" bagi seseorang seperti saya—saya selalu teringat padanya. Seorang anak dari ayah yang bekerja serabutan dan ibu penjual sayur keliling, yang berani mengucapkan "bismillah" lebih dulu sebelum mengetahui caranya, karena ia meyakini bahwa Allah tidak pernah sekecil permasalahan yang dihadapinya.
Dari sosoknya, saya belajar satu hal penting: keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Justru, keterbatasan itulah yang sering kali menjadikan keyakinan kita kepada Allah menjadi lebih murni—karena tidak ada lagi tempat bersandar selain kepada-Nya.
*disampaikan oleh Ainun Zahrotul Fahmiya, S.Si.
