![]() |
Inspirasi Story - Dalam dunia pendidikan, kita sering kali berfokus pada bagaimana membuat siswa memahami sesuatu melalui logika, penjelasan materi, dan contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini tentu penting karena pengetahuan menjadi bekal seseorang untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Namun, kenyataannya, tidak semua kesalahan selesai hanya dengan penjelasan. Ada siswa yang sudah memahami aturan, tetapi masih mengulang pelanggaran yang sama. Ada yang tahu bahwa suatu perbuatan tidak baik, tetapi tetap melakukannya. Lantas, apakah pendidikan melalui logika tidak lagi cukup? Barangkali, yang perlu kita sadari adalah bahwa manusia tidak hanya memiliki akal untuk memahami, tetapi juga hati yang perlu disentuh.
Sebuah kisah tentang Rasulullah SAW memberikan pelajaran menarik mengenai hal ini. Dikisahkan, seorang pemuda datang menghadap Rasulullah SAW dan mengadukan kesulitannya menahan hawa nafsu hingga ingin melakukan zina. Rasulullah tidak langsung memarahinya. Beliau justru mengajaknya berpikir melalui pertanyaan sederhana: apakah pemuda itu rela jika ibunya atau saudara perempuannya diganggu oleh laki-laki lain? Pemuda tersebut menjawab dengan tegas bahwa ia tidak rela.
Rasulullah kemudian mengajaknya memahami bahwa perempuan yang ingin dizinainya juga memiliki keluarga yang tentu tidak ingin anggota keluarganya disakiti. Namun, ketika pemuda itu masih merasa kesulitan mengendalikan dirinya, Rasulullah SAW meletakkan tangan beliau di dada pemuda tersebut dan mendoakannya. Kisah ini menggambarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan kebenaran agar dipahami oleh akal, tetapi juga tentang membimbing agar kebenaran itu tumbuh dan mengakar di dalam hati.
Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa mendidik manusia membutuhkan pendekatan yang utuh. Ada saatnya siswa perlu diberi penjelasan, diajak berdiskusi, dan dibantu memahami konsekuensi dari perbuatannya. Namun, ada pula saatnya mereka membutuhkan keteladanan, perhatian, kelembutan, doa, serta pendekatan rohani yang membuat mereka merasa dihargai dan dibimbing.
Guru bukan sekedar penyampai materi dan penjaga aturan, melainkan juga pendidik yang berusaha menyentuh sisi kemanusiaan peserta didiknya. Sebab, tujuan pendidikan bukan hanya membuat seseorang tahu mana yang baik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran untuk memilih dan melakukan kebaikan. Akal membantu seseorang memahami kebenaran, tetapi hati yang terdidiklah yang menggerakkan seseorang untuk menjalaninya. Wallahu a'lam bish-shawab.
*disampaikan oleh Alfa Munayah Harahap, S.H.U.
