![]() |
Inspirasi Story - Beredar sebuah video di sosial media yang cukup menyentuh hati seorang ayah. Videonya sederhana. Seorang ayah mengantar putrinya ke sekolah seperti pagi-pagi sebelumnya. Sang putri turun dari kendaraan, merapikan tasnya, lalu berjalan menuju gerbang sekolah. Ayahnya hanya memandang dari kejauhan.
Beberapa detik kemudian, ayah itu menangis.
Bukan karena putrinya pergi jauh, tetapi karena tiba-tiba ia menyadari betapa cepat waktu berlalu. Rasanya baru kemarin ia menggendong anak kecil yang selalu ingin dipeluk, menggenggam telunjuknya, dan memanggilnya, "Ayah." Kini, putri kecilnya mulai melangkah menuju dunianya sendiri.
Video itu semakin menyentuh ketika muncul sebuah kalimat yang membuat saya merenung:
Kita memiliki dunia anak kita mungkin hanya sampai usia 3 tahun. Di usia 4–12 tahun, kita hanya memiliki sore dan malamnya. Usia 13–18 tahun, kita hanya mendapatkan akhir pekan mereka. Usia 19–25 tahun, kita hanya akan mendapat tanggal merahnya saja. Setelah usia itu, kita hanya mendapat sesempatnya saja. Dulu kita adalah dunianya, tetapi kelak kita hanya menjadi dermaganya, tempat sesekali pulang bagi anak kita.
Kalimat itu mengingatkan pada Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah. Mungkin bagi sebagian orang, mengantar anak hanyalah rutinitas beberapa menit setiap pagi. Padahal, bisa jadi itulah momen sederhana yang kelak paling dirindukan. Di perjalanan menuju sekolah, ada tawa, cerita, keluh kesah, bahkan pelajaran hidup yang tidak akan pernah tergantikan.
Di tengah renungan itu, saya teringat pada puisi Kahlil Gibran yang begitu indah tentang makna menjadi orang tua.
"Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang merindukan kehidupan. Mereka datang melalui dirimu namun bukan darimu. Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukanlah milikmu.
Kamu mampu mencurahkan isi hati dan cintamu, namun kamu takkan mampu menaruh isi kepalamu. Karena mereka punya isi pemikirannya sendiri.
Kamu mampu menaungi raganya, namun kamu takkan mampu menaungi jiwanya. Karena jiwanya bernaung di rumah masa depan yang takkan mampu kita kunjungi bahkan dalam mimpi.
Kamu mampu mencoba seperti mereka, namun jangan coba-coba menjadikan mereka seperti dirimu. Karena hidup tidak berjalan mundur maupun bertaut di hari kemarin.
Kita hanyalah bagai busur panah dan mereka anak panahnya. Dia-lah Sang Pemanah yang akan memandu mereka menuju tujuannya. Semampu kita membengkokkan diri, anak kita akan melesat dari tangan-Nya."
Puisi itu mengingatkan kita bahwa tugas orang tua bukanlah memiliki anak, melainkan membersamai mereka selama Allah menitipkannya kepada kita. Mengantar mereka ke sekolah, mendengarkan cerita-cerita kecil mereka, atau sekadar menggenggam tangan mereka hari ini mungkin terasa biasa. Namun suatu saat nanti, ketika mereka telah tumbuh dewasa, kita akan menyadari bahwa momen-momen sederhana itulah yang ternyata paling berharga.
Selama mereka masih meminta diantar, antarkanlah. Selama mereka masih ingin bercerita, dengarkanlah. Sebab suatu hari nanti, kita bukan lagi dunia mereka, melainkan hanya dermaga—tempat mereka sesekali pulang.
*disampaikan oleh Rahmat Agung Hidayatullah, S.Pd
