Inspirasi Story - Suatu hari, seorang musafir melewati sebuah tempat pembangunan. Di sana ia melihat tiga orang sedang memahat batu yang sama besarnya. Ketiganya melakukan pekerjaan yang sama, menggunakan alat yang sama, bahkan berada di bawah terik matahari yang sama.

Musafir itu menghampiri orang pertama dan bertanya, "Apa yang sedang Anda kerjakan?."

Orang itu menjawab dengan wajah lelah, "Saya hanya memecah batu. Pekerjaan ini berat, tetapi saya harus melakukannya."

Musafir kemudian mendekati orang kedua dan mengajukan pertanyaan yang sama.

Orang kedua menjawab, "Saya sedang mencari nafkah untuk keluarga saya. Saya bekerja agar anak dan istri saya dapat hidup dengan layak."

Jawaban itu tentu baik. Ia bekerja dengan tujuan yang mulia.

Lalu musafir menghampiri orang ketiga. Anehnya, meskipun pakaiannya penuh debu dan peluh membasahi wajahnya, ia tetap bekerja dengan penuh semangat.

Ketika ditanya, "Apa yang sedang Anda kerjakan?."

Ia tersenyum lalu menjawab, "Saya sedang membangun sebuah katedral yang indah. Mungkin saya tidak akan melihat bangunan ini selesai. Mungkin nama saya tidak akan pernah dikenang. Tetapi suatu hari nanti, ribuan orang akan datang ke tempat ini untuk beribadah, berdoa, dan menemukan harapan. Saya bangga menjadi bagian kecil dari sesuatu yang besar."

Ketiga orang itu melakukan pekerjaan yang sama. Namun yang membedakan mereka adalah cara mereka memandang pekerjaannya.

Begitu pula dengan profesi kita sebagai guru.

Setiap hari masuk kelas, mengisi absensi, menjelaskan materi, memeriksa tugas, mendampingi siswa, bahkan terkadang menghadapi berbagai tantangan yang menguras tenaga dan pikiran. Jika hanya melihatnya sebagai rutinitas, mungkin akan mudah merasa lelah. Selanjutnya apabila hanya melihatnya sebagai pekerjaan untuk mencari nafkah, itu pun tidak salah.

Namun alangkah indahnya jika setiap pagi kita berkata dalam hati, "Hari ini saya sedang membangun masa depan."

Mungkin sebagai seorang guru tidak akan pernah tahu nasihat mana yang akan diingat siswa seumur hidup. Atau bahkan mungkin juga tidak akan melihat langsung hasil dari kesabaran yang ditanam hari ini.

Namun setiap kata yang baik, setiap keteladanan, setiap kesabaran, dan setiap doa yang senantiasa diberikan seorang guru kepada siswa adalah batu-batu kecil yang sedang menyusun bangunan besar bernama peradaban.

Sebagai guru, bukan hanya mengajarkan pelajaran. Proses yang sedang dijalani yakni membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyiapkan generasi yang kelak akan memimpin bangsa dan menjadi kebanggaan orang tua mereka.

Karena itu, jangan pernah meremehkan pekerjaan yang sedang dijalani. Bisa jadi, puluhan tahun dari sekarang, ada seorang dokter yang bekerja dengan penuh empati karena dahulu pernah diajari tentang kasih sayang oleh gurunya.

Ada seorang pemimpin yang jujur karena pernah melihat keteladanan gurunya. Mungkin mereka lupa nama guru yang membimbingnya. Namun nilai-nilai yang ditanam akan tetap hidup di dalam diri mereka.

Maka marilah terus mengajar dengan hati, mendidik dengan ikhlas, dan melayani dengan penuh cinta. Karena sesungguhnya, sebagai seorang guru tidak sekadar mengajar di ruang kelas. Melainkan sedang membangun masa depan.

*disampaikan oleh Mubadi Atin, S.Pd
Lebih baru Lebih lama