![]() |
Inspirasi Story - Pernah nggak, seseorang sudah berbuat baik kepada kita berkali-kali, tetapi hanya karena satu kesalahan, kita tiba-tiba lupa pada semua kebaikannya?
Aneh, ya?
Seseorang bisa membantu kita berkali-kali. Ada saat kita membutuhkan. Mendengarkan ketika kita sedang punya masalah. Bahkan mungkin pernah berkorban waktu, tenaga, atau sesuatu untuk membuat kita merasa terbantu.
Tapi cukup satu kesalahan...
Tiba-tiba semua kebaikan itu seperti tidak pernah ada.
Kita masih mengingat perkataannya yang membuat kita tersinggung. Masih teringat ketika dia mengecewakan kita. Bahkan mungkin, setelah bertahun-tahun berlalu, satu kesalahan itu masih saja muncul ketika kita mengingat dirinya.
Kenapa satu kesalahan bisa terasa lebih besar daripada begitu banyak kebaikan?
Coba kita jujur kepada diri sendiri. Bukankah kita juga pernah melakukan hal yang sama?
Ada orang yang pernah berbuat baik kepada kita, tetapi kemudian melakukan sesuatu yang membuat kita kecewa. Dan tanpa sadar, cara kita memandang orang itu ikut berubah.
Yang dulu kita anggap baik, tiba-tiba terlihat buruk.
Yang dulu kita hargai, tiba-tiba kita lupakan.
Padahal, orang tersebut tidak hanya terdiri dari satu kesalahan.
Mungkin Kita Memang Lebih Mudah Mengingat yang Menyakitkan
Manusia memang cenderung lebih mudah memberikan perhatian kepada sesuatu yang menyakitkan.
Hal yang membuat kita kecewa biasanya meninggalkan bekas yang lebih kuat. Sementara kebaikan yang dilakukan berulang kali justru sering terasa biasa karena sudah menjadi bagian dari keseharian.
Kita terbiasa menerima kebaikan, sampai lupa menghargainya.
Bayangkan seseorang yang setiap hari membantu kita. Karena dilakukan terus-menerus, kita akhirnya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.
Tetapi ketika suatu hari dia tidak membantu, kita justru bertanya:
“Kok sekarang dia berubah?”
Padahal mungkin bukan dia yang berubah.
Mungkin kita saja yang terlalu terbiasa menerima kebaikannya.
Apakah Adil Menilai Seseorang dari Satu Kesalahan?
Coba bayangkan jika hal yang sama terjadi kepada kita.
Kita pernah berbuat baik kepada seseorang berkali-kali. Kita pernah membantunya, mendengarkannya, menemani saat dia kesulitan.
Kemudian suatu hari kita melakukan satu kesalahan.
Lalu semua kebaikan yang pernah kita lakukan seolah-olah tidak berarti.
Bukankah kita juga akan merasa tidak adil?
Kita sendiri pasti pernah salah. Pernah lupa. Pernah salah bicara. Pernah mengecewakan orang lain tanpa sengaja.
Dan ketika itu terjadi, bukankah kita juga berharap orang lain tidak mengingat kesalahan kita selamanya?
Belajar Melihat Seseorang Secara Utuh
Dari sini kita bisa belajar satu hal sederhana:
Jangan biarkan satu kesalahan menghapus seluruh kebaikan seseorang.
Bukan berarti kita harus membenarkan kesalahan.
Kalau memang salah, tetap salah. Kita boleh kecewa, boleh menegur, bahkan boleh memberi batas jika memang diperlukan.
Tetapi setelah itu, cobalah melihat orang tersebut secara utuh.
Jangan hanya melihat bagian yang membuat kita kecewa, lalu melupakan semua hal baik yang pernah dia lakukan.
Sebab bisa jadi, bagi kita, kesalahannya hanya satu kejadian.
Tetapi bagi dirinya, mungkin ada begitu banyak kebaikan yang sudah dia berikan tanpa pernah meminta untuk dihargai.
Sebelum Menghakimi, Coba Ingat Kebaikannya
Mungkin mulai sekarang, ketika kita sedang kecewa kepada seseorang, kita bisa berhenti sebentar.
Tarik napas.
Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:
“Apakah saya sedang terlalu fokus mengingat satu kesalahannya, sampai lupa pada semua kebaikannya?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin bisa mengubah cara kita melihat seseorang.
Karena terkadang, bukan orang lain yang tiba-tiba berubah menjadi buruk.
Kitalah yang terlalu lama menyimpan satu kesalahan, sampai lupa bahwa orang tersebut pernah memberikan begitu banyak kebaikan.
Dan mungkin, memaafkan bukan berarti kita harus melupakan kesalahan.
Memaafkan adalah belajar untuk tidak membiarkan satu kesalahan menghapus seluruh kebaikan yang pernah ada.
*disampaikan oleh Naila Nisrina Setya Rahma
