Inspirasi Story - Ada sebuah video dari salah satu content creator yang cukup digemari di kalangan anak muda, Ferry Irwandi. Dalam salah satu video, Bung Ferry turun langsung ke lapangan dan melakukan penggalangan dana untuk membeli kawasan hutan di Kalimantan. Tujuannya tentu menarik perhatian,  menjaga keberlangsungan hutan sekaligus melindungi habitat satwa endemik Kalimantan. 

Namun, kali ini bukan tentang penggalangan dana atau aksi penyelamatan hutan. Justru melalui video itu membawa kembali mengingat sebuah perjalanan kecil beberapa tahun lalu dalam mengenal Stoicism atau filsafat Stoa.

Pertama kali mengenal Ferry Irwandi sekitar empat atau lima tahun lalu melalui salah satu videonya yang membahas tentang Stoicism. Dari situlah kemudian berkenalan dengan sebuah buku karya penulis Indonesia, Henry Manampiring, berjudul Filosofi Teras. Buku yang pertama kali diterbitkan pada 2018 ini menjadi salah satu buku pengantar yang cukup populer untuk mengenal filsafat Stoik. 

Salah satu gagasan yang menarik dari Stoicism adalah bagaimana kita menghadapi emosi negatif, tekanan hidup, kegagalan, dan berbagai hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Sederhananya, tidak semua hal bisa kita kendalikan, tetapi kita masih memiliki kendali atas bagaimana kita meresponsnya.

Salah satu kisah yang sangat menarik adalah cerita tentang K.H. Agus Salim. Seorang diplomat dan tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Dalam sebuah forum, ketika beliau sedang berpidato, sekelompok orang yang tidak menyukainya mengejek dengan suara “mbek... mbek...”

Ejekan tersebut dikaitkan dengan ciri khas janggut putih yang dimiliki Agus Salim. Alih-alih marah atau terpancing emosi, beliau tetap tenang dan melanjutkan pidatonya. Bahkan, di akhir pidato beliau merespons dengan kalimat yang sangat terkenal: “Sungguh menyenangkan bahwa kambing-kambing pun datang ke ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Sayangnya, mereka tidak mengerti bahasa manusia.” 

Entah benar persis demikian atau tidak redaksinya, kisah ini menggambarkan sebuah sikap yang menarik. Ketika seseorang mencoba menjatuhkan kita, kita tidak selalu harus membalas dengan kemarahan.

Dari kisah tersebut, dapat dipahami bahwa salah satu pelajaran penting dari Stoicism sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain katakan tentang kita. Kita juga tidak bisa mengatur bagaimana orang lain menilai, menyukai, membenci, memuji, atau bahkan meremehkan kita. Tetapi ada satu hal yang masih berada dalam kendali kita, bagaimana kita memilih untuk meresponsnya. Kita bisa memilih untuk marah, membalas, menyimpan dendam, atau justru tetap tenang dan melanjutkan apa yang sedang kita kerjakan.

Di zaman sekarang, pelajaran ini terasa semakin relevan. Sedikit kesalahan bisa menjadi bahan pembicaraan. Satu komentar bisa membuat seseorang kehilangan mood seharian. Bahkan di media sosial, perkataan orang yang tidak kita kenal sekalipun kadang bisa memengaruhi pikiran dan perasaan kita. Kita sering menghabiskan terlalu banyak energi untuk memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita ubah, apa yang orang lain pikirkan tentang kita.

Mungkin kita tidak perlu memenangkan setiap perdebatan. Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua perkataan harus dimasukkan ke hati. Dan tidak semua orang harus memahami pilihan hidup kita. Terkadang, menjadi dewasa bukan tentang mampu membalas setiap perkataan, tetapi tentang mampu memilih mana yang layak mendapatkan respons dan mana yang cukup kita biarkan berlalu.

Pada akhirnya, Stoicism bukan tentang menjadi seseorang yang tidak memiliki emosi. Bukan pula tentang bersikap cuek terhadap segala sesuatu. Justru sebaliknya, kita belajar mengenali emosi, menerima kenyataan yang tidak bisa diubah, kemudian memilih respons yang lebih bijaksana.

Kita mungkin tidak bisa mengendalikan dunia di sekitar kita. Kita tidak bisa mengendalikan mulut orang lain. Kita bahkan tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi kita masih bisa belajar mengendalikan diri sendiri.

Di situlah letak salah satu bentuk kebebasan yang paling sederhana, tetap tenang ketika dunia mencoba membuat kita kehilangan ketenangan.

Lebih baru Lebih lama